Mengenal Budaya Lewat 6 Peribahasa ‘Kotowaza’ Jepang
Bahasa dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dalam bahasa Jepang, terdapat banyak ことわざ (kotowaza) atau peribahasa (ungkapan) yang tidak hanya indah secara linguistik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai hidup masyarakat Jepang seperti ketekunan, kesederhanaan, dan kebersamaan.
Yuk, kenali 6 kotowaza Jepang berikut beserta terjemahan harfiah dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari!
1. 知らぬが仏(しらぬがほとけ/Shiranu ga hotoke)
“Tidak tahu adalah Buddha”
→ Kotowaza ini memiliki makna yang sama dengan peribahasa Inggris Ignorance is Bliss, yaitu “ketidaktahuan adalah kebahagiaan”. Dalam konteks budaya Jepang, ungkapan ini mencerminkan keinginan untuk menjaga ketenangan batin, bahkan dengan “menjauh” dari informasi yang bisa menimbulkan konflik atau keresahan.
2. 人のふり見て我がふり直せ(ひとのふりみてわがふりなおせ/Hito no furi mite wagafuri naose)
“Melihat perilaku orang lain, perbaikilah perilaku diri sendiri”
→ Peribahasa yang mengajarkan tentang introspeksi ini menekankan bahwa penting bagi setiap individu, masyarakat Jepang, untuk belajar dari kesalahan orang lain dan memperbaiki diri sendiri tanpa menyinggung orang tersebut.
3. 自業自得(じごうじとく/Jigō jitoku)
“Kamu Menuai Apa yang kamu tabur”
→ Berasal dari konsep karma dalam ajaran Buddha, ungkapan ini menekankan bahwa seseorang akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Budaya Jepang menghargai tanggung jawab pribadi dan prinsip “memetik hasil dari tindakan sendiri”, baik maupun buruk.
4. 一か八か(いちかばちか/Ichika bachika)
“Satu atau delapan”
→ All or nothing, yang mungkin sering kita temui dalam ungkapan bahasa Inggris, memiliki makna yang sama dengan kotowaza ini. Sering digunakan oleh masyarakat Jepang saat mengambil keputusan besar dengan risiko tinggi. Juga sering digunakan saat berjudi.
5. 笑う門には福来たる(わらうかどにはふくきたる / Warau kado ni wa fuku kitaru)
“Keberuntungan datang ke rumah yang dipenuhi tawa”
→ Ini adalah kotowaza positif yang menunjukkan bahwa kebahagiaan dan tawa menarik keberuntungan. Adanya peribahasa ini akan mengingatkan masyarakat Jepang bahwa sikap ceria dan terbuka dapat menjadi sumber kebahagiaan.
6. 口は災いの元(くちはわざわいのもと/Kuchi wa wazawai no moto)
“Mulut adalah sumber bencana”
→ Berbicara sembarangan bisa menimbulkan masalah. Kotowaza ini mencerminkan nilai budaya Jepang yang menekankan pengendalian diri dalam berbicara, serta pentingnya menjaga hubungan sosial selagi berhati-hati dalam berkomunikasi.
Dengan mempelajari kotowaza, kita tidak hanya menambah wawasan bahasa, tapi juga memahami esensi nilai-nilai Jepang. Jika kamu sedang belajar bahasa Jepang, coba gunakan kotowaza di atas sebagai ungkapan harian atau caption postingan media sosial yuk!